Senin, 13 Februari 2012

Pedoman Kaji Tindak

Keberhasilan pelaksanaan FMA tergantung dari kualitas Tim Penyuluh Lapangan ( TPL ) dalam memfasilitasi pembelajaran agribisnis sesuai dengan pengembangan komoditas unggulan yang berbasis inovasi teknologi. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk meningkatkan kapasitas penyuluh pertanian masih dibutuhkan peningkatan kemampuan penyuluh pertanian dalam memfasilitasi pengembangan agribisnis di kelompok pembelajaran FMA sebagai tuntutan pengembangan agribisnis yang dinamis, dimana penyuluh pertanian harus mampu mengadaptasikan teknologi yang terintregasi dan dapat diaplikasi langsung di tempat lokasi wilayah kerjanya.
Kaji tindak merupakan suatu metode yang dapat mengembangkan   kapasitas inovasi  penyuluh pertanian agar secara bersama-sama menelaah dan memodifikasi inovasi teknologi pengembangan agribisnis berbasis komoditi unggulan sesuai kebutuhan petani. Untuk kelancaran pelaksanaan kaji tindak maka diperlukan suatu pedoman pelaksanaan agar tim dapat bekerja dan berinteraksi dengan berbagai pihak di lapangan.Dengan adanya pedoman pelaksanaan kaji tindak ini, kami berharap agar memberikan manfaat bagi Tim Penyuluh Lapangan ( TPL ) dalam melaksanakan tugasnya. Silahkan klik link di bawah ini untuk membaca secara lengkap mengenai pedoman kaji tindak.

Nata de Coco

Nata de Coco adalah hidangan yang terbuat dari fermentasi air kelapa yang terlihat seperti jeli, biasanya berwarna putih hingga bening dan bertekstur kenyal. Makanan ini pada mulanya dibuat di negara Philipina.

Alat dan Bahan
  • Alat dan Bahan
  1. Alat
  • Loyang
  • Saringan
  • Kompor
  • Panci
  • Kasa
     2. Bahan
  • Air Kelapa
  • Biang
  • Asam Sitrat
  • Gula Pasir

  • Cara Pembuatan
  1. Panaskan air kelapa
  2. Saring dengan menggunakan saringan
  3. Air kelapa dicampurkan dengan biang 2.5% - 5% (ket: ada yang sampai 10%) dari jumlah air kelapa
  4. Asam sitrat dicampurkan sekitar 0.25% (ket: ada yang kurang dari 0.25%)
  5. Masukkan ke dalam loyang sampai terisi 3/4 nya
  6. Tutup dengan kasa, jaga jangan sampai bergoyang
  7. Tunggu hingga 10 - 20 hari akan mengendap
  8. Air yang tidak mengendap dipindahkan kedalam wadah/botol karena dapat dipergunakan sebagai biang
  9. Endapan yang terbentuk dicuci kemudian diiris-iris
  10. Panaskan dan campur dengan gula
  11.  Setelah dingin Nata de Coco siap untuk disantap


Disampaikan oleh Bapak Rohman Rusmana, SP.MM. pada Pertemuan Bulanan Penyuluh di BPP Kragilan 8 September 2011.

Semoga bermanfaat.

Wadah dan Label Pestisida

Wadah merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari substansi pestisida, beberapa hal yang berkaitan dengan wadah meliputi volume, bahan, ketebalan, warna bahan lapisan dan semua hal harus jelas serta terperinci.

Wadah Pestisida :
  • Volume
           volume wadah diberikan izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti : mm, cc, liter, gram, kg.
  • Bahan
           bahan harus jelas berupa : gelas, kaleng, aluminium foil, plastik, dll.
  • Ukuran Wadah
           harus dinyatakan dengan lengkap : tinggi, diameter, panjang, lebar.
  • Warna Wadah
           diuraikan seperti warna merah, coklat, putih, dst.

Label Pestisida :

Label pestisida merupakan rangkuman informasi bagi pengedar maupun pengguna pestisida, antara lain : petunjuk penggunaan, peringatan bahaya, pertolongan pada kecelakaan, merk dagang, dll.

Isi Label :
  • nama dagang
  • jenis pestisida
  • nama dan bahan aktif
  • isi berat bersih kemasan
  • peringatan keamanan
  • petunjuk keamanan
  • klasifikasi dan simbol bahaya
  • petunjuk keracunan dan pertolongan medis
  • petunjuk penggunaan
  • piktogram
  • nomor pendaftaran
  • nama dan alamat pemegang pendaftaran
  • nomor, tahun produk dan waktu kadaluarsa

Formulasi Pestisida :
Pada umumya pestisida yang dijual umum dalam bentuk formulasi yang dapat digunakan secara langsung.


Bentuk Formulasi  :
Formulasi Cair

  • pekatan yang dapat diemulsikan (EC)
  • pekatan yang larut dalam air (WSC, SCW)
  • pekatan dalam air

Formulasi Padat 

  • tepung yang dapat disuspensikan (WP)
  • tepung yang dapat dilarutkan (SP)
  • butiran


Jenis-jenis Pestisida :

  • insektisida untuk mengendalikan insekta (serangga)
  • fungisida untuk mengendalikan fungus (jamur)
  • herbisida untuk mengendalikan gulma / rumput liar
  • bakterisida untuk mengendalikan bakteri
  • rodentisida untuk mengendalikan rodentia (tikus)
  • nematisida untuk mengendalikan nematoda (cacing)
  • akarisida untuk mengendalika akarina (tungau)
  • moluskisida untuk mengendalikan moluska (siput)


Cara Kerja Pestisida :

  1. kontak
  2. lambung
  3. pernafasan
  4. sistemik 


Klasifikasi dan Simbol Bahaya Pestisida :
Warna                           Kelas Bahaya                 Pernyataan Bahaya
   coklat tua                       sangat berbahaya         sangat beracun 
   merah tua                       berbahaya sekali                 beracun
   kuning tua                       berbahaya                          berbahaya
   biru muda                       cukup berbahaya                  perhatian
   hijau                               tidak berbahaya pada
                                         penggunaan normal

Teknik Membuat MOL

MOL atau Mikro Organisme Lokal merupakan mikro organisme hasil biakan yang dihasilkan melalui proses fermentasi dari bahan - bahan alami yang dapat digunakan sebagai produk untuk mempercepat pembusukkan jerami atau dapat juga digunakan sebagai zat untuk mempercepat pembuatan pupuk organik.

Bahan - bahan :
  1. buah grenuk 1 Kg
  2. gula pasir / gula aren secukupnya
  3. air cucian beras 10 liter
  4. rebung / iwung (as pisang) 1 Kg
Cara Pembuatan :

  • rebung / iwung diparut lalu diperas
  • buah grenuk dilumatkan
  • buat larutan gula pada air cucian beras
  • campurkan semua bahan yang sudah tersedia
  • selanjutnya difermentasi (disimpan dalam keadaan tertutup) selama 2 minggu
  • bila aroma larutan sudah tercium seperti aroma tape berarti larutan MOL sudah siap digunakan
  • selamat mencoba !!!

Pengobatan Tradisional Penyakit Pada Kambing

pKesehatan ternak masih merupakan masalah penting yang harus dihadapi oleh para peternak. Terbatasnya areal penggembalaan, rendahnya kualitas pakan, serta sanitasi lingkungan yang kurang memadai akan berakibat rendahnya produktivitas ternak dan secara langsung memudahkan ternak terserang penyakit.
Pengobatan tradisional  merupakan salah satu alternatif penanganan kesehatan ternak yang dapat dilakukan peternak karena selain murah, bahan - bahannya pun mudah didapat.

Beberapa Jenis Penyakit Yang Sering Ditemui :
1. Diare
Gangguan pencernaan ini dapat diakibatkan oleh berbagai jenis parasit, virus atau kesalahan mengkonsumsi pakan.
Pengobatan :
  • 2 buah biji pinang ditumbuk halus, setelah itu dicampur segelas air dan minumkan sehari sekali
  • 5 gram kapur sirih dan segenggam daun jambu biji dimasak dalam 1 liter air, didihkan hingga airnya 1/2 liter dan diminumkan sekali sehari selama 3 hari
  • arang kayu digerus dicampur air secukupnya dan diminumkan
2. Kembung
Pada dasarnya kembung terjadi karena adanya gangguan metabolisme terutama pada bagian lambung. Gangguan ini karena ketidakmampuan ternak untuk mengeluarkan gas yang dihasilkan lambung, akibat dari proses fermentasi. Biasanya kembung terjadi pada ternak yang digembalakan terlalu pagi karena hijauan masih mengandung embun.
Pengobatan :
  • masukkan 5 buah asam jawa ke dalam air hangat,tambahkan gula merah dan 3 buah kunyit yang telah digerus, setelah itu aduk rata. Campuran ini diminumkan pada ternak dengan menggunakan botol atau bumbung bambu
  • tumbuk daun sembukan dicampur dengan minyak kelapa yang sudah dipakai, gosokkan di bagian perut yang menonjol 2 kali sehari
3. Cacingan
Tanda - tanda kambing terkena cacingan selain turunnya berat badan, pertumbuhan terhambat dan daya tahan tubuh berkurang.
Pengobatan :
  • haluskan 3 lembar daun pepaya, lalu campur dengan segelas air dan garam 1 sendok teh. Berikan 1 kali tiap hari sampai sembuh
  • haluskan daun temabakau, kemudian campur dengan segelas air. Berikan 1 kali tiap hari sampai sembuh   
4. Kudis
Kudis termasuk penyakit yang dapat menular pada manusia, tanda - tanda ternak yang terserang kudis adalah timbulnya keropeng merah pada kulitnya, bulu rontok, gatal dan bersisik.
Pengobatan :
  • ternak dimandikan dengan sabun, kemudian dijemur. Setelah kering bagian yang teserang dipotong bulunya lalu diobati dengan campuran belerang dan oli. Diulang setiap 3 hari sampai sembuh
  • haluskan kamper lalu dicampur dengan minyak kelapa, gosok campuran tersebut pada luka
5. Majir
Ternak yang majir masih memungkinkan untuk beranak kembali, majir terjadi karena adanya penimbunan lemak pada alat reproduksi sehingga menghalangi untuk terjadinya pembuahan. 
Pengobatan :
  • cekok ternak majir dengan asam jawa sebanyak 1 Kg/pemberian, berikan 1 hari 3 kali, setelah itu jemur ternak seharian

Penyiangan Pada Tanaman Padi

 Macam - macam cara penyiangan pada tanaman padi :
  •  Dengan menggunakan tangan
  •  Dengan menggunakan gasrok/landak
  •  Dengan menggunakan herbisida      
Manfaat Penyiangan :
  • Mengurangi persaingan antara gulma dengan tanaman padi dalam hal kebutuhan hara, sinar matahari dan tempat.
  • Memutus perputaran hidup gulma.
  • Mencegah terbentuknya tempat berkembang hama, penyakit dan tikus.
  • Mencegah tersumbatnya saluran dan air irigasi
  • Menghindari munculnya tanaman gulma yang akarnya dapat mengeluarkan racun bagi akar tanaman padi.